Archive for August, 2006

TUHAN TAHU

Wednesday, August 9th, 2006

Beberapa Hal Yang Dapat Mendorongmu Untuk Tetap Bertahan!

Jika kau merasa lelah dan tak berdaya dari usaha yang sepertinya sia-sia…
Tuhan tahu betapa keras engkau sudah berusaha.

Ketika kau sudah menangis sekian lama dan hatimu masih terasa pedih…
Tuhan sudah menghitung airmatamu.

Jika kau pikir bahwa hidupmu sedang menunggu sesuatu dan waktu serasa berlalu begitu saja…
Tuhan sedang menunggu bersama denganmu.

Ketika kau merasa sendirian dan teman-temanmu terlalu sibuk untuk menelepon…
Tuhan selalu berada disampingmu.

Ketika kau pikir bahwa kau sudah mencoba segalanya dan tidak tahu hendak berbuat apa lagi…
Tuhan punya jawabannya.

Ketika segala sesuatu menjadi tidak masuk akal dan kau merasa tertekan…
Tuhan dapat menenangkanmu.

Jika tiba-tiba kau dapat melihat jejak-jejak harapan…
Tuhan sedang berbisik kepadamu.

Ketika segala sesuatu berjalan lancar dan kau merasa ingin mengucap syukur…
Tuhan telah memberkatimu.

Ketika sesuatu yang indah terjadi dan kau dipenuhi ketakjuban…
Tuhan telah tersenyum padamu.

Ketika kau memiliki tujuan untuk dipenuhi dan mimpi untuk digenapi…
Tuhan sudah membuka matamu dan memanggilmu dengan namamu.

Ingat bahwa di manapun kau atau ke manapun kau menghadap… TUHAN TAHU

LIHATLAH KUEKU MAMA

Wednesday, August 9th, 2006

LIHATLAH KUEKU MAMA

 

Hari ini ulang tahun pernikahan papa dan mama. Sejak sore
mereka pergi dan akan makan malam di luar. Aku ingin membuat kue tart dari
resep yang kudapat di sebuah majalah. Setelah dua belas tahun, inilah pertama
kalinya aku belajar membuat kue.
Aku akan mencoba membuat kue terbaik untuk kupersembahkan kepada papa dan mama
di hari istimewa ini. Aku sudah membeli semua bahan yang diperlukan dan begitu
mobil yang dikendarai apa dan mama keluar dari pagar rumah, aku segera berlari
ke dapur untuk membuat kue.

Aku sangat sibuk dengan kueku sehingga tak terasa waktu berlalu begitu cepat.
Hari sudah malam dan mungkin sebentar lagi papa dan mama akan pulang. Aku
mengangkat kueku dari oven. Aku mencicipinya dan lapisan luarnya terasa agak
pahit karena gosong.

Aku menarik nafas sambil memandang dapur yang berantakan. Blender dan mixer
yang kotor, ada tepung yang bertaburan di lantai dan meja, ditambah lagi dengna
mangkok-mangkok kotor yang belum sempat kubereskan, dan sebagainya.

Mana yang lebih dahulu harus kukerjakan, apakah menyelesaikan lapisan coklat di
kueku atau membereskan dapur yang berantakan. Akhirnya aku memutuskan untuk
menyelesaikan kueku. Ketika kueku selesai, aku mendengar suara mobil memasuki
halaman rumah.

Aku segera mematikan lampu dan berharap ketika papa dan mama masuk ke dapur
akan senang dengan kejutanku. Benar saja, papa dan mama berjalan berdampingan
menuju dapur dan ketika mereka sampai di pintu, aku menyalakan lampu sambil
berteriak "Suprise …!"

Mereka tersenyum dan aku memeluk mereka sambil mengucapkan selamat atas
pernikahan indah mereka. Namun beberapa saat kemudian raut wajah mama berubah
dan mama menjadi marah. "Coba lihat, apa yang sudah kau perbuat di dapur
ini sehingga sangat berantakan. Sudah berapa kali mama katakan kepadamu untuk
segera merapihkan sendiri segala sesuatu yang sudah kau buat menjadi
kacau"

"Tetapi Ma …"

Belum sempat aku menjelaskan semuanya, mama sudah berpaling berjalan menuju
kamarnya sambil berkata, "Seharusnya mama mengawasimu merapikan semua ini
sekarang juga, tetapi sekarang mama sedang kesal. Besok pagi mama mau semuanya
sudah rapih."

"Sayang, coba lihat ke meja itu," kata papa mencoba meredakan amarah
mama.

"Aku tahu bahwa meja itu juga sangat berantakan dan aku juga tidak akan tahan
melihatnya," kata mama sambil berjalan.

Aku dan papa hanya terdiam. Aku menangis dan memeluk papa sambil berkata,
"Pa, bahkan mama tidak melirik sedikit pun ke kue itu."

Papa membelai rambutku sambil berkata, "Sayang, banyak orang tua menderita
penyakit situational timberculer glaucoba - ketidakmampuan melihat gambaran
secara menyeluruh karena terpengaruh oleh hal-hal kecil, dan itu yang terjadi
kepada mama. Besok setelah mama tahu kau membuat kue untuknya, hatinya pasti
akan terharu."

Kita seringkali gagal melihat motivasi baik yang terbungkus oleh suatu keadaan
yang buruk. Situational timberculer glaucoba membutakan kita sehingga kita
tidak bisa melihat bentuk cinta kasih atau penghargaan yang dipersiapkan oleh
orang-orang yang kita kasihi.

Ada seorang ibu yang mencubit anaknya hingga memar karena anaknya memecahkan dua
buah piring yang akan dicucinya. Manakah yang lebih berharga, terbentuknya
kerajinan anak atau harga dua buah piring yang pecah itu ?

Jangan lukai perasaan orang yang kita kasihi karena hal-hal yang kecil,
telusuri motivasi awal mereka ketika melakukan suatu hal kemudian bimbing
mereka untuk melakukannya dengan cara yang lebih baik.

KISAH ARLOJI YANG HILANG

Wednesday, August 9th, 2006

Ada seorang
tukang kayu. Suatu saat ketika sedang bekerja, secara tak disengaja arlojinya
terjatuh dan terbenam di antara tingginya tumpukan serbuk kayu. Arloji itu
adalah sebuah hadiah dan telah dipakainya cukup lama. Ia amat mencintai arloji
tersebut. Karenanya ia berusaha sedapat mungkin untuk menemukan kembali
arlojinya. Sambil mengeluh mempersalahkan keteledoran diri sendiri si tukang
kayu itu membongkar tumpukan serbuk yang tinggi itu.

Teman-teman pekerja yang lain juga turut membantu
mencarinya. Namun sia-sia saja. Arloji kesayangan itu tetap tak ditemukan.
Tibalah saat makan siang.

Para pekerja serta pemilik
arloji tersebut dengan semangat yang lesu meninggalkan bengkel kayu tersebut.

 
Saat itu seorang anak yang sejak tadi memperhatikan mereka
mencari arloji itu, datang mendekati tumpukan serbuk kayu tersebut. Ia
menjongkok dan mencari. Tak berapa lama berselang ia telah menemukan kembali
arloji kesayangan si tukang kayu tersebut. Tentu si tukang kayu itu amat gembira.
Namun ia juga heran, karena sebelumnya banyak orang telah membongkar tumpukan
serbuk namun sia-sia. Tapi anak ini cuma seorang diri saja, dan berhasil
menemukan arloji itu.

 
"Bagaimana caranya engkau mencari arloji ini ?",
tanya si tukang kayu.

 
"Saya hanya duduk secara tenang di lantai. Dalam
keheningan itu saya bisa mendengar bunyi tik-tak, tik-tak. Dengan itu saya tahu
di mana arloji itu berada", jawab anak itu.

 
Keheningan adalah pekerjaan rumah yang paling sulit
diselesaikan selama hidup. Sering secara tidak sadar kita terjerumus dalam
seribu satu macam ‘kesibukan dan kegaduhan’.

Ada baiknya kita menenangkan diri kita terlebih dahulu sebelum mulai melangkah
menghadapi setiap permasalahan. "Segenggam ketenangan lebih baik dari pada
dua genggam jerih payah dan usaha menjaring angin." (Pengkhotbah 4:6). "

 

www.cerita-kristen.com

JAWABAN DOA

Wednesday, August 9th, 2006

Pada suatu hari seorang wanita sedang membimbing keponakannya belajar.Tapi tidak seperti biasanya, kali ini keponakannya tidak bisa berkonsentrasi. Ternyata salah satu kelerengnya hilang. Tiba - tiba anak itu berkata, "Bi, bolehkah aku berlutut dan meminta Allah untuk menemukan kelerengku ?"
Ketika bibinya mengizinkan, anak itu lalu berlutut di dekat kursinya, menutup matanya dan berdoa dengan sungguh - sungguh. Selesai berdoa dia bangkit berdiri dan melanjutkan pelajarannya.

Keesokan harinya, bibinya yang takut doa keponakannya tidak terjawab, dan dengan demikian akan melemahkan imannya, dengan khawatir bertanya, "Sayang, apakah engkau sudah menemukan kelerengmu ?"

"Tidak, Bi" Jawab anak itu, "tetapi Allah telah membuatku tidak menginginkan kelereng itu lagi."

Alangkah indahnya iman anak itu. Allah memang tidak selalu menjawab doa kita menurut kehendak kita, tetapi jika kita tulus berdoa, Dia akan mengambil keinginan kita yang bertentangan dengan kehendak-Nya. Maju terus dalam Tuhan, Tuhan Yesus memberkati saudara dan seisi rumah, Amin.

www.cerita-kristen.com

APAKAH TUHAN MENCIPTAKAN KEJAHATAN?

Monday, August 7th, 2006

Apakah Tuhan menciptakan segala yang ada? Apakah kejahatan
itu ada? Apakah Tuhan menciptakan kejahatan?

Seorang Profesor dari sebuah universitas terkenal menantang
mahasiswa-mahasiswanya dengan pertanyaan ini, "Apakah Tuhan menciptakan
segala yang ada?".

Seorang mahasiswa dengan berani menjawab, "Betul, Dia yang menciptakan
semuanya". "Tuhan menciptakan semuanya?" Tanya professor sekali
lagi. "Ya, Pak, semuanya" kata mahasiswa tersebut.

Profesor itu menjawab, "Jika Tuhan menciptakan segalanya, berarti Tuhan
menciptakan Kejahatan. Karena kejahatan itu ada, dan menurut prinsip kita bahwa
pekerjaan kita menjelaskan siapa kita, jadi kita bisa berasumsi bahwa Tuhan itu
adalah kejahatan."

Mahasiswa itu terdiam dan tidak bisa menjawab hipotesis professor tersebut.
Profesor itu merasa menang dan menyombongkan diri bahwa sekali lagi dia telah
membuktikan kalau Kekristenan itu adalah sebuah mitos.

Mahasiswa lain mengangkat tangan dan berkata, "Profesor, boleh saya
bertanya sesuatu?"

"Tentu saja," jawab si Profesor

Mahasiswa itu berdiri dan bertanya, "Profesor, apakah dingin itu
ada?"

"Pertanyaan macam apa itu? Tentu saja dingin itu ada. Kamu tidak pernah
sakit flu?" Tanya si professor diiringi tawa mahasiswa lainnya.

Mahasiswa itu menjawab, "Kenyataannya, Pak, dingin itu tidak ada. Menurut
hukum fisika, yang kita anggap dingin itu adalah ketiadaan panas. Suhu -460F
adalah ketiadaan panas sama sekali. Dan semua partikel menjadi diam dan tidak
bisa bereaksi pada suhu tersebut. Kita menciptakan kata dingin untuk
mendeskripsikan ketiadaan panas.

Mahasiswa itu melanjutkan, "Profesor, apakah gelap itu ada?"

Profesor itu menjawab, "Tentu saja itu ada."

Mahasiswa itu menjawab, "Sekali lagi anda salah, Pak. Gelap itu juga tidak
ada. Gelap adalah keadaan dimana tidak ada cahaya. Cahaya bisa kita pelajari,
gelap tidak. Kita bisa menggunakan prisma Newton untuk memecahkan cahaya menjadi beberapa warna dan mempelajari berbagai panjang
gelombang setiap warna. Tapi Anda tidak bisa mengukur gelap. Seberapa gelap
suatu ruangan diukur dengan berapa intensitas cahaya di ruangan tersebut. Kata
gelap dipakai manusia untuk mendeskripsikan ketiadaan cahaya."

Akhirnya mahasiswa itu bertanya, "Profesor, apakah kejahatan itu
ada?"

Dengan bimbang professor itu menjawab, "Tentu saja, seperti yang telah
kukatakan sebelumnya. Kita melihat setiap hari di Koran dan TV. Banyak perkara
kriminal dan kekerasan di antara manusia. Perkara-perkara tersebut adalah
manifestasi dari kejahatan."

Terhadap pernyataan ini mahasiswa itu menjawab, "Sekali lagi Anda salah,
Pak. Kajahatan itu tidak ada. Kejahatan adalah ketiadaan Tuhan. Seperti dingin
atau gelap, kajahatan adalah kata yang dipakai manusia untuk mendeskripsikan
ketiadaan Tuhan. Tuhan tidak menciptakan kajahatan. Kajahatan adalah hasil dari
tidak adanya kasih Tuhan dihati manusia. Seperti dingin yang timbul dari
ketiadaan panas dan gelap yang timbul dari ketiadaan cahaya."

Profesor itu terdiam.

Nama mahasiswa itu adalah Albert Einstein.

Kisah Nyata.

sumber: www.cerita-kristen.com